Sabtu, 13 April 2013

Surat Untuk Kamu

Hai, apa kabar kamu?
Pasti baik kan? Aku yakin kalau kamu baik disana, Tuhan kan selalu dengar doaku.
Kamu tak ingin tahu kabarku? Ah, kamu memang selalu begitu, cuek, tak peduli, tapi aku tahu kamu yang sesungguhnya tidak begitu.
Aku? Tenang. Aku sudah bisa lupakan kamu, lupakan kenangan kita. Walaupun susah dan prosesnya sedikit demi sedikit, dan agak sakit, tapi lihat, aku berhasil melupakanmu.

Malam ini, dibawah langit malam ini, aku tulis surat kecil untukmu. Bukan surat cinta, bukan tentang rindu. Hanya aku ingin tahu apa kabar kamu. Apa kabar dengan ingatanmu tentangku? Masih tentang aku yang konyolkah? atau sudah berubah menjadi aku yang dewasa? Hey, kamu harus lihat aku sekarang! Aku bukan lagi seperti yang kau kejar kejar di depan kelas waktu dulu, Aku bukan lagi orang yang duduk di belakangmu yang selalu mengejekmu dengan candaan candaan klasik Aku sudah dewasa sekarang. Oh ya, satu lagi. Aku yakin, tinggi badanku sudah sebanding dengan tinggimu, tak seperti dulu, aku yang lelaki tapi aku yang lebih pendek. Percaya? Harus percaya!

Aku melihatmu tadi pagi, di kelasmu, lebih tepatnya di balik tralis jendela kelasmu. Kau sedang melihat ke bawah dari kelasmu yang di lantai dua. Kamu sedang apa? mencariku? melihat menyusur orang-orang yang sedang berlalu lalang. Hehe, aku terlalu percaya diri ya? Aku yakin kamu tak sepenuhnya mencariku, tapi terimakasih kau mau memanggilku, nama singkatku. Aku senang, berarti kamu masih ingat aku.

Eh, aku tulis tadi, ini bukan tentang rindu ya? Sepertinya aku bohong. Kenapa makin kesini aku semakin rindu kamu? Ah, aku akhiri saja ya surat ini. Aku takut, usahaku untuk melupakanmu tertahan disini. Salam untuk adikumu, ibumu dan ayahmu. Salam untuk kenangan kita. Bye.

Dariku
Teruntuk kamu, 
yang tak mampu ku ucapkan