Jumat, 02 Agustus 2013

Malaikat Pemberi Kehangatan


Hari ini matahari datang lagi. Menggusur semua gelap dan menggantinya pelan pelan dengan cahaya tampak. Namun, sepertinya matahari pagi ini tak mampu buang semua dingin, tak mampu habiskan semua sisa-sisa tangis tadi malam. Aku tetap tengkurap di atas pembaringan. Dipeluk malaikat tanpa sayap yang selalu memberikan rasa hangat.
Ku kerjapkan mata ini. Memberi sedikit salam pada hari kedua bulan Agustus. Sedikit risih dengan malaikat yang tetap memelukku sepagi ini. Ku tendang dia. Ku singkirkan jauh-jauh. Dengan angkuh, aku merasa siap menjalani hari ini.
***
“Selamat pagi. ., syukurlah kamu bangun lebih awal pagi ini.”
Suara itu mengagetkanku. Aku tak tahu siapa yang berhasil menelusup ke kamarku pagi-pagi begini.
“Kau bingung? Pantas saja. Tapi tak apa. Perkenalkan, aku malaikat yang bertugas hangatkan setiap malammu.”
Ku dengar suara yang sama. Aku merinding.
“Tak usah takut. Aku bukan setan atau genderuwo kok. Yah, aku malaikat. Bukankah kau yang memberikan nama itu kepadaku. Ingat?”
Aku pikir, ketakutanku salah. Ku putuskan bangkit dari pembaringan dan duduk menatap jendela yang masih lembab oleh sang embun.
“Pagi ini kau kelihatan membaik. Tak segelisah tadi malam. Sudah dapat mengontrol emosimu?”
Aku diam.  
“Kau lupa ya. Tadi malam kau menangis hebat. Gelisahmu memuncak. Dan aku  yang kau percaya tuk bilas pipi basahmu.”
Aku tetap diam. Mengingat.
“Kau bilang padaku, kau telah berbuat dosa seharian kemarin? Iya kan? Sampai-sampai kau bilang kau tak bisa memaafkan dirimu sendiri. Berlebihan.”
Ku pandangi dia lekat-lekat.
“Hei. Aku, sang malaikatlah yang selalu mendekapmu disaat kau inginkan. Disaat gundah, dingin, sendiri dan tangismu. Aku yang selalu hangatkan malammu. Hehe, maaf sedikit narsis. Tapi, apa kau tak ingin mengucapkan sedikit terimakasih padaku? Aku bukan meminta pamrih loh ya, hanya sedikit berharap.”
Ku rengkuh dia. Ku peluk dan ku cium dengan anarkis. Da dia balas dengan sentuhan kelembutan. “Terimakasih.” ucapku.
“Sudahlah. Tak usah berlebihan. Aku terlalu bau apek untuk kau ciummi.”
Aku tertawa sendiri.
“Alangkah baiknya, sekarang kau ambil air wudlu. Meminta ampunan kepadaNya atas dosamu hari kemarin. Mumpung matahari belum seberapa naik. Jangan lupa, minta maaf kepada ibumu. Katamu, beliaulah yang paling kau kecewakan.”
***
                Sebuah percakapan pagi ini membuatku tahu bahwa kita tak pernah sendirian. Kita punya Tuhan yang lucunya memberikan kesadaran lewat berbagai macam hal. Selimut contohnya. Dia yang selalu memberikan kehangatan untuk kita dikala kita dingin dan sendiri. Dia juga yang ada dan sedia untuk menjadi lap air mata.
                Dan kusebut dia, selimut, malaikat pemberi kehangatan.
Terimakasih selimut merah yang takkan terganti di sudut kamar ini. 


#CeritaDariKamar Day2