Selasa, 28 Juli 2015

Juli Kembali



Sorce : foto.viva.co.id





Seperti air.
            Yang mengalir, berkelok mengikut sungai. Atau dia yang tertahan dalam tanah, mencoba membebaskan diri dan mencari bantuan sang akar agar ia terserap oleh pohon dan memberi kebermanfaatan untuk hidup. Atau air yang tergenang begitu saja di permukaan.
            Seperti air.
            Yang naik mengangkasa. Mengalah dengan panasnya mentari dan mengubah dirinya menjadi uap-uap yang bersama uap lainnya mencari hidup yang baru. Ia ke atas. Ia menuju ke tempat yang lebih tinggi. Dan terkumpul bersama air-air yang lainnya yang bernasib sama.
            Membentuk awan, beriringan, menari, bersenang-senang di angkasa luas. Sampai waktunya datang ia juga akan jatuh kembali. Jatuh membumi. Ke tempat awalnya dia berada sebagai rintik-rintik hujan, gerimis, lebat atau bahkan badai sekalipun. Ia kembali. Menjadi yang berkelok bersama sungai, yang tertanam di dalam tanah bersama akar-akar, atau tergenang begitu saja. Kembali.
            Seperti air.
            Yang menyiklus. Mencipta sebuah siklus. Turun kemudian naik kembali. Pergi kemudian datang kembali. Tanpa tahu awal mulanya seperti apa dan kapan pula akan berkahir siklusnya. Tanpa disadari, begitu juga hidup. Menyiklus. Mencipta sebuah siklus. Datang dan pergi. Meninggalkan lalu kembali. Turun kemudian menaik.
Setidaknya, jika hidupmu tidak seperti itu maka hidupku-lah yang seperti itu. Kini aku kembali.
***

22.30  
Sudah sampai mana dek?

Tulisan itu muncul di layar ponselku. Bahkan ini yang ketiga kalinya setelah aku tidak menjawab kedua pesan serupa sebelumnya. Ibuku memang seperti itu, penuh dengan rasa khawatir. Membuatku malas membalas.
Tadi sore aku baru mengabarinya bahwa aku pulang sore ini. Dua tahun. Dua tahun setelah kepulanganku terakhir. Cukup lama memang. Menjadi aktifis mahasiswa membuatku kekurangan waktu bersama keluarga. Setiap kali libur semester, ada saja alasan yang menahanku di tanah rantau. Ya, aku mahasiswa semester tua. Belajar hukum di Universitas di Jakarta. Merantau jauh dari pelosok Jawa Timur meninggalkan Ibu dan Bapakku yang hanya hidup berdua. Aku anak tunggal.

Baru lepas dari Stasiun Prujakan-Cirebon, Bu. Ibu dereng sare? Sudah malam loh Bu. Ndak usah nungguin Adek. Nanti kalo Adek sudah sampai stasiun, Ibu tak telpon.
Ibu tidur saja nggih…

Walaupun sering khawatir denganku, tapi Ibu tidak pernah berani menelponku. Mungkin dia tahu, aku selalu tak menjawab panggilan darinya. Semata-mata karena aku tidak ingin mengganggu waktu organisasiku, -waktu rapat, meeting, diskusi atau pengarahan- dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Piye kabare Adek?” atau “Sampun maem dereng?”. Aku akan memberinya pesan singkat setelah semua urusanku selesai. Ibu sudah hafal dengan perangaiku ini sejak aku aktif di sekolah tingkat atas dahulu.
Bapak?
Bapak kaku orangnya. Ditambah garis mukanya yang tegas, kulitnya yang legam membuat dia cocok mendapat predikat guru tergalak di SMP tempat ia mengajar. Aku dulu bersekolah di sana, bersama Bapakku, dan aku jengah menjadi bahan olok-olok karena Bapakku killer. Dia jarang tersenyum. Sesekali tertawa hanya jika melihat srimulat diputar kembali di televisi nasional. Bertolak belakang sekali dengan Ibu. Namun itulah cinta, saling melengkapi, katanya. Dan hasilnya adalah aku, yang menuruni sifat keduanya. Over thinking namun arogan dan lugas.
***

02.24

Aku mulai terkantuk. Kereta malam Gajayana tujuan akhir Banyuwangi ini berjalan lamban, pikirku. Pak Naryo, laki-laki parubaya asal Tulungagung, penumpang di sebelahku sudah ambruk tertidur. Terkerungkup jaket-setengah-jasnya yang berwarna hitam. Aku masih betah membolak-balik buku agendaku. Mencoretnya di sana-sini tanda satu per satu acara sudah terlaksana.
Hanya saja aku harus balik cepat sehabis hari raya nanti. Libur hanya lima hari, aku harus kembali ke rantau mengurus ini-itu sebagai calon ketua BEM yang pemilihannya sebulan lagi. Lelah. Aku sedikit malas membayangkannya. Sibuk, rapat, hearing, kampanye dan tetek-bengek lainnya. Aku hanya ingin santai dan pulang kampung menjenguk Ibu-Bapak saja. Aku hanya ingin kembali. Kembali ke peraduan.
Aku menatap lamat kaca jendela. Dari luar tergambar sawah terhampar yang hitam dimakan malam. Perjalanan malam ini entah mengapa aku menikmati. Atau mungkin karena sudah lama tak ku jalani? Lalu bias wajahku nampak dari samar kaca. Membuatku berpikir, apakah salah jika aku menjadi aktivis kampus? Apakah dibenarkan jika aku jarang pulang hanya karena ingin menambah banyak pengalaman? Dan, apakah Ibu dan Bapakku baik-baik saja? Biarlah. Biarlah pertanyaan-pertanyaan itu berputar di otakku saja. Biarlah hidup ini berproses. Mudahan-mudahan Ibu-Bapakku dapat mengerti. Mudah-mudahan.
Akan ku mintakan izinku pada Bapak-Ibu nanti, saat aku kembali.
***

07.18

            Bang, udah sampai? Jangan lupa kabari aku

            Kali ini bukan kalimat dari ibuku yang muncul di layar ponsel. Ibu telah ku cueki sejak tadi malam. Dia mungkin lelah telah mengirim lebih dari sebelas pesan dan tak ku balas.
            Ini dari Marini.Kekasihku.
            Kekasihku yang kujanjikan akan kunikahi setelah ku wisuda nanti. Ya, dia telah kuperawani. Katanya, dia mencintaiku sampai mati, sampai apa saja dia beri. Bahkan aku tak tahu apakah ku mencintainya. Brengsek memang. Tapi akan tetap kunikahi dia nanti. Bukan karena cinta. Tapi karena aku laki-laki, pantang ingkar janji.
            Sudahlah, kuputuskan untuk mengabaikan saja pesannya. Anggap saja aku sedang tertidur karena lelah dalam kereta. Nanti akan kukatakan itu sebagai alasan.
            Ya, akan kuceritakan tentang Marini juga pada Bapak-Ibu. Bukan tentang dia yang sudah keprawani tentunya. Tentangnya, perangainya, dan sikap-sifatnya sebagai calon istri. Semoga orang tuaku merestui. Nanti, jika aku kembali.
***

14.46

Langit mendung Kediri dating sore ini. Bersama Gajayana Malam yang datang terlambat. Enam belas menit rupanya. Aku turun. Aaah, lelah. Ku seret kaki ini meninggalkan gerbong melangkah menuju peron.
Inilah kampungku. Inilah peraduanku.  
Bu, Juli kembali.
Kataku dalam hati.
Akan ku ceritakan padanya tentang hidupku dua tahun ini, tentang bagaimana aktifitasku, rapat-rapatku, prosesku dicalonkan menjadi ketua BEM, dan tentu saja tentang Marini.
Tentang kelokan hidup yang ku lalui. Tentang mereka, akar-akar yang membantuku memberi kebermanfaatan bagi orang banyak. Tentang Marini, mentariku yang mengubahku membuat meninggi. Tentang kesenangan-kesenanganku bersama awan-awan di angkasa Ibu Kota. Dan tentang perjalananku kembali, Bu.
Jika nanti aku akan berangkat menyiklus lagi, izinkan aku kembali suatu hari nanti.
Di waktu seperti sekarang ini.
Di akhir Juli. 

Kemudian gerimis turun membasahi Kota Kediri. 

Senin, 27 Juli 2015

Reborn

Source : alkarami.wordpress.com






Seperti menetas kembali.
Ketika semua kata-kata mulai kembali ingin terangkai dan neuron-neuron di otak kembali ingin bekerja lebih keras. Dahiku berkerut, apa ini saatnya terlahir kembali?

Setelah kurasa ide-ide dalam benak mulai ingin berdesakkan ingin keluar. Pernah ku kata, "Janganlah disimpan nak..., jangan biarkan dia membuncah pecah menjadi berkeping amarah." pada tulisanku terdahulu. Serta setelah satu-dua orang menginspirasiku untuk melakukan hobiku kembali.

Maka ini. Ku buka kembali keping-keping dari bosannya hidupku, atau bahkan bahagianya hatiku dalam bait-bait tulisanku. Dalam usahaku membangun ruang bacaku. Salah! Ruang bacamu, dan ruang tulisku. Sala de Lectura.
















Ini tentang semua hal yang kusuka,
layaknya menulis dan membaca.
Dan semoga kau pun menjadi suka.
Salam.